Malam ini, aku abaikan ruhku yang tengah merajuk minta makan.
Yang kuperhatikan hanya nadiku saja.
Aku tidak pilih kasih, tapi nadi lebih menuntut pasti.
Nadi meminta cahayanya:
terlekat erat dipelipis ibunda nyawa.
Ah, sayangnya itu terlalu jauh.
Aku tak mampu gapai cahaya yang bercampur peluh di pelipis ibunda nyawa.
Akhirnya, nadi kehilangan cahaya.
Dia hampa.
Aku tengok ruh sambil membawa nurani.
Aku juga kehilangan dia.
Dia sudah kelaparan, maka ia pergi dalam lapar dan dengki.
Maka, tinggallah aku:
Menatap mata hatiku pribadi, sembari berharap ruh dan nadi ku kembali.
No comments:
Post a Comment