Seorang ibu mengejan dengan penuh dayanya. Matanya memincing menahan sakit. Di tahannya segala suara, lantas, memusatkan energinya pada perutnya; mengejan. Peluh sudah terlalu banyak menetes dari dahinya. Meski begitu, hal itu tak pernah terwujud. Hal sakral itu tak kunjung datang.
“Saya lelah... saya mau tidur dulu...”rintih suara ibu itu.
“JANGAN!”seru sang dukun beranak, sambil mencubiti pantat si ibu agar terus membuka kelopak matanya.
“Tapi, mata saya berat sekali...”suara ibu itu semakin terdengar lemah.
“Tahan ya Nak.. tahan... pucuk kepalanya sudah terlihat.”balas dukun beranak.
Ibu itu kian mengucurkan eleginya. Menahan segala kantuk yang merajai dinding-dinding matanya. Ia terus saja mengejan, sambil terus mengucapkan nama Allah.
Detik dan menit terus saja meluncur dengan begitu cepat. Sang ibu sudah terlalu lelah, dan mungkin ia akan melambaikan tangannya. Ia memejamkan matanya perlahan. Diabaikannya cubitan-cubitan dari Mak Yanti, dukun beranak yang kini membantu proses persalinannya. Yang ia inginkan adalah rasa lega. Dan sampai saat ia memejamkan matanya, ia masih juga tak kunjung mendapatkan rasa lega itu.
“Nak.. buka matanya nak. Kamu harus berjuang mengeluarkan anak kamu ini. Cepat nak. Cepat. Ayo nak.”
Sang ibu malah terdiam dalam ketidak sanggupannya. Bulir air mata sudah jatuh terlebih dahulu dan menyungai bersama peluh asinnya. Sayup-sayup, ia mendengar sebuah suara. Ia segera membuka matanya, dan menatapa ke arah suara itu berasal. Ia mengamatinya, suaminya. Kumisnya masih sama, tipis di bibir atasnya. Mata beningnya juga tak berubah. Hanya saja, wajahnya terlihat begitu bersih.
“Allahuakbar. Allahuakbar. Allahuakbar. Laaillaa haillallah huallah huakbar. Allahuakbar walillailham.”
Suara suaminya terdengar begitu apik ditelinganya. Sang ibu tadi mulai menggerakkan bibirnya. Mengikuti asma-asma Allah yang dituntun suaminya. Seketika itu, kekuatannya muncul. Ia mengejan begitu dashyat, seolah-olah para malaikat mentransfer pelbagai macam tenaga padanya.
“Oeee...Oee...”
Suara bayi mulai melambung di dalam ruangan itu. Suara itu kian memantul dan terpaut pada daun telinga si ibu. Wanita muda itu bernafas lega. Ucapan hamdalah terus meluncur dari bibir mungilnya.
“Bayinya lengkap, nak Diah. Lengkap. Normal.”ucap Mak Yanti, menyadarkan lamunan ibu bernama Diah itu.
Diah segera merangkul anaknya dalam pelukannya, setelah terlebih dahulu Mak Yanti membersihkannya dari sisa-sisa darah yang menempel.
Tak lama berselang, satu hal mengganggu dalam pikiran Diah. Kemana suaminya?
“Mak, suami saya kemana ya? Bukannya tadi dia ada disamping saya?”tanya Diah.
“Suami?”dahi Mak Yanti mengerut. “Disini cuma ada aku dan kamu. Tidak ada orang lain disini.”kata Mak Yanti, melanjutkan kalimatnya.
“Tapi tadi dia yang menuntun saya takbiran! Saya mendengar jelas suaranya itu kok!”Diah masih bersikeras dengan keyakinannya.
“Nak Diah pasti mimpi. Tidak ada orang lain di ruangan ini.”timpal Mak Yanti.
“Terus, suara tadi itu apa Mak? Suara takbiran suami saya tadi? Masa’ Mak enggak mendengarnya? Jelas sekali, Mak.”tambah Diah.
“Itukan suara takbiran dari masjid. Malam ini memang malam terakhir ramadhan, nak.”jelas Mak Yanti lagi.
“Tapi, jelas-jelas mata saya melihat suami saya!”suara Diah makin meninggi.
Mak Yanti menatap Diah perlahan. Tangannya kini mengusap dahi Diah lembut. Lalu, wanita enampuluh tahun itu berkata,”Nak Diah, mungkin suami Nak Diah turun dari surga, mau menolong Nak Diah beranak.”
Diah terdiam.
June 24, 2013
Pesan Mawar Hitam
Mawar hitam ini aku berikan untukmu
Sebagai tanda bahwa kau tak selamanya tenang
Akan ada banyak hal yang mengintimidasi
Termasuk, ajal yang detik ini meraubmu.
Source picture: http://4.bp.blogspot.com
Sebagai tanda bahwa kau tak selamanya tenang
Akan ada banyak hal yang mengintimidasi
Termasuk, ajal yang detik ini meraubmu.
Source picture: http://4.bp.blogspot.com
June 20, 2013
Kisah Seekor Merpati Jantan
Seekor merpati jantan terbang melintasi langit temaram.
Rambutnya yang putih menyiratkan kelembutan dibingkai langit.
Sayapnya begitu gagah melukiskan corak keemasan dari Raja Siang.
Kepakkannya bergerak dalam ritme-ritme berani seirama dengan kayuhan dari awan yang putih.
Namun, mata sang jantan tak lepas memandang buana.
Matanya menyaratkan kepedihan.
Seekor merpati jantan terbang membelah langit senja.
Petang pun bergilir, lalu emas berubah hitam.
Rambut putih sang jantan terlihat begitu mencolok dari mahleganya.
Dan bisa dilihat, kepakkan sayapnya tetap pada ritme-ritmenya; ritme keindahan.
Namun, mata sang jantan tak lepas memandang buana.
Matanya menyaratkan kepedihan.
Mata sang jantan tampakkan rasa sakit yang sangat.
Jantung hatinya telah hilang hanya menimbulkan rasa jemu di dada.
Cintanya telah berlayar membuatnya hilang akan rasa.
Tak ada yang mampu ia lakukan, kecuali mencarinya. Hartanya berharga.
Merpati jantan mulai melengkingkan nadanya.
Instingnya membawanya kepekarangan sebuah rumah.
Nalurinya menghantarkannya pada kekasih hatinya; jantung hatinya.
Ia begitu bahgia, karena ia dapat mencium aroma gadisnya.
Merpati jantan itu mulai merapat pada bulu-bulu putih yang kini tergantung di sebuah pohon rambutan.
Ia tahu, itu rambut kekasihnya yang rontok.
Merpati jantanpun terus menunggu.
Tapi, kian lama ia bersandar, tak kunjung kekasihnya menepi.
Selama itu pula, cintanya kian meluruh; lepuh.
Ia sudah seperti daun kering ringkih, yang akan pecah dengan tekanan rambut tipis.
Cintanya yang begitu kental membuatnya menelan beribu-ribu duri tatkala tak mampu bersua dengan sang betina.
Namun, masih pula ia menaruh harapan penuh.
Bukankah seekor merpati hanya punya satu hati untuk nyawanya?
Sayangnya, seberapa besar ia menunggu, tampaknya tak akan ada hasilnya.
Dan, seberapa mampunya ia bertahan, kenyataan tak akan luput darinya.
Karena, ia tak pernah tahu akan satu hal.
Ia tak pernah tahu, bahkan saat energinya mulai kandas darinya.
Ia tak pernah tahu, meski raganya sudah mengenyangkan perut belatung gemuk.
Ia masih tak pernah tahu, walau dirinya sudah menjadi pupuk penyerbuk pohon rambutan.
Ia tak tahu bahwa
merpati betinanya telah hilang dikuali pemilik pohon rambutan.
Rambutnya yang putih menyiratkan kelembutan dibingkai langit.
Sayapnya begitu gagah melukiskan corak keemasan dari Raja Siang.
Kepakkannya bergerak dalam ritme-ritme berani seirama dengan kayuhan dari awan yang putih.
Namun, mata sang jantan tak lepas memandang buana.
Matanya menyaratkan kepedihan.
Seekor merpati jantan terbang membelah langit senja.
Petang pun bergilir, lalu emas berubah hitam.
Rambut putih sang jantan terlihat begitu mencolok dari mahleganya.
Dan bisa dilihat, kepakkan sayapnya tetap pada ritme-ritmenya; ritme keindahan.
Namun, mata sang jantan tak lepas memandang buana.
Matanya menyaratkan kepedihan.
Mata sang jantan tampakkan rasa sakit yang sangat.
Jantung hatinya telah hilang hanya menimbulkan rasa jemu di dada.
Cintanya telah berlayar membuatnya hilang akan rasa.
Tak ada yang mampu ia lakukan, kecuali mencarinya. Hartanya berharga.
Merpati jantan mulai melengkingkan nadanya.
Instingnya membawanya kepekarangan sebuah rumah.
Nalurinya menghantarkannya pada kekasih hatinya; jantung hatinya.
Ia begitu bahgia, karena ia dapat mencium aroma gadisnya.
Merpati jantan itu mulai merapat pada bulu-bulu putih yang kini tergantung di sebuah pohon rambutan.
Ia tahu, itu rambut kekasihnya yang rontok.
Merpati jantanpun terus menunggu.
Tapi, kian lama ia bersandar, tak kunjung kekasihnya menepi.
Selama itu pula, cintanya kian meluruh; lepuh.
Ia sudah seperti daun kering ringkih, yang akan pecah dengan tekanan rambut tipis.
Cintanya yang begitu kental membuatnya menelan beribu-ribu duri tatkala tak mampu bersua dengan sang betina.
Namun, masih pula ia menaruh harapan penuh.
Bukankah seekor merpati hanya punya satu hati untuk nyawanya?
Sayangnya, seberapa besar ia menunggu, tampaknya tak akan ada hasilnya.
Dan, seberapa mampunya ia bertahan, kenyataan tak akan luput darinya.
Karena, ia tak pernah tahu akan satu hal.
Ia tak pernah tahu, bahkan saat energinya mulai kandas darinya.
Ia tak pernah tahu, meski raganya sudah mengenyangkan perut belatung gemuk.
Ia masih tak pernah tahu, walau dirinya sudah menjadi pupuk penyerbuk pohon rambutan.
Ia tak tahu bahwa
merpati betinanya telah hilang dikuali pemilik pohon rambutan.
Dalam Bilik 2 x 3
Dalam bilik 2 x 3 itu:
ayahku melamun
ibuku menuntut
adikku meringkuk
aku tersudut
Lalu, angin beringsut
Tabrak atap rumah kami
Tabrak dinding rumah kami
Berdebum kami dengar suara
Wajah kami berlima kusut
Lalu, petir mulai menyambar
Basah kian tergambar
Membuat dingin semakin meramai
Wajah kami berempat menjelma sang cuaca;
mendung.
ayahku melamun
ibuku menuntut
adikku meringkuk
aku tersudut
Lalu, angin beringsut
Tabrak atap rumah kami
Tabrak dinding rumah kami
Berdebum kami dengar suara
Wajah kami berlima kusut
Lalu, petir mulai menyambar
Basah kian tergambar
Membuat dingin semakin meramai
Wajah kami berempat menjelma sang cuaca;
mendung.
June 10, 2013
Cermin : Maya (2)
Kamu tak pernah tau siapa aku. Pun tak pernah tau dengan apa aku isi perutku. Yang aku tahu, kamu hanyalah sebatas awan merah yang mengganggu langit biruku. Kamu gulma pengganggu rumpun mawarku. Yah, kamu hanya pengganggu dan tak ubahnya sampah.Kamu itu sampah.
Aku membaca perlahan kata-kata yang tersemat di akhir halaman buku matematikaku. Tersentak? tentu saja. Aku bahkan meneteskan air mataku, sebab tak kuasa menahan rasa sakit akibat tulisan itu. Bagaimana mungkin bisa demikian? Bagaimana mungkin ia berpendapat itu tentang aku? Bahkan, setelah semua yang aku lakukan untuknya, ia masih saja menganggap aku sampah. Cih. Sial. KEJAM!!! Nyata memang kejam!
Jadi, surat kemarin yang Nyata berikan padaku itu, apa memang benar untukku? Atau, sebenarnya ada Maya lain selain aku. Ah, andai saja aku tak menukar bukuku dengan Nyata. Mungkin, aku tak harus mendapati kata-kata itu.
Andai saja.
Aku membaca perlahan kata-kata yang tersemat di akhir halaman buku matematikaku. Tersentak? tentu saja. Aku bahkan meneteskan air mataku, sebab tak kuasa menahan rasa sakit akibat tulisan itu. Bagaimana mungkin bisa demikian? Bagaimana mungkin ia berpendapat itu tentang aku? Bahkan, setelah semua yang aku lakukan untuknya, ia masih saja menganggap aku sampah. Cih. Sial. KEJAM!!! Nyata memang kejam!
Jadi, surat kemarin yang Nyata berikan padaku itu, apa memang benar untukku? Atau, sebenarnya ada Maya lain selain aku. Ah, andai saja aku tak menukar bukuku dengan Nyata. Mungkin, aku tak harus mendapati kata-kata itu.
Andai saja.
June 09, 2013
Kisahnya Ruh dan Nadi
Malam ini, aku abaikan ruhku yang tengah merajuk minta makan.
Yang kuperhatikan hanya nadiku saja.
Aku tidak pilih kasih, tapi nadi lebih menuntut pasti.
Nadi meminta cahayanya:
terlekat erat dipelipis ibunda nyawa.
Ah, sayangnya itu terlalu jauh.
Aku tak mampu gapai cahaya yang bercampur peluh di pelipis ibunda nyawa.
Akhirnya, nadi kehilangan cahaya.
Dia hampa.
Aku tengok ruh sambil membawa nurani.
Aku juga kehilangan dia.
Dia sudah kelaparan, maka ia pergi dalam lapar dan dengki.
Maka, tinggallah aku:
Menatap mata hatiku pribadi, sembari berharap ruh dan nadi ku kembali.
Yang kuperhatikan hanya nadiku saja.
Aku tidak pilih kasih, tapi nadi lebih menuntut pasti.
Nadi meminta cahayanya:
terlekat erat dipelipis ibunda nyawa.
Ah, sayangnya itu terlalu jauh.
Aku tak mampu gapai cahaya yang bercampur peluh di pelipis ibunda nyawa.
Akhirnya, nadi kehilangan cahaya.
Dia hampa.
Aku tengok ruh sambil membawa nurani.
Aku juga kehilangan dia.
Dia sudah kelaparan, maka ia pergi dalam lapar dan dengki.
Maka, tinggallah aku:
Menatap mata hatiku pribadi, sembari berharap ruh dan nadi ku kembali.
Cermin: Sajak Maya untuk Nyata (1)
Apa salah aku mencintaimu?
Nyatanya, takdir membawa kita ke dalam pelik yang semakin sulit aku sangkal.
Aku telah kalah akan idealismeku, sementara bayangku masih memanifestasikan dirimu dalam deru nafasku
dan hatiku tak hentinya mengimplementasikanmu bagai roman-roman mentari dengan segala sketsanya
Aku bingung, lepas pegangan dan penuh hambatan.
Aku hanya mampu terdiam, setengah sadar, setengah berorasi
sementara dakwaannya atas aku semakin liat.
Ah, aku semakin tak mampu membedakannya.
Rasanya, aku kehilangan visualku dan hanya mengandalkan mata batin untuk memadu.
Yang kutahu...
adalah kamu yang masih menyala-naya dalam khayalku
adalah kamu yang giat menyapa bilik hatiku
adalah kamu yang menohok tepat jalinan nadiku
kamu, dan masih kamu.
-Kepada Nyata, dari Maya
Nyatanya, takdir membawa kita ke dalam pelik yang semakin sulit aku sangkal.
Aku telah kalah akan idealismeku, sementara bayangku masih memanifestasikan dirimu dalam deru nafasku
dan hatiku tak hentinya mengimplementasikanmu bagai roman-roman mentari dengan segala sketsanya
Aku bingung, lepas pegangan dan penuh hambatan.
Aku hanya mampu terdiam, setengah sadar, setengah berorasi
sementara dakwaannya atas aku semakin liat.
Ah, aku semakin tak mampu membedakannya.
Rasanya, aku kehilangan visualku dan hanya mengandalkan mata batin untuk memadu.
Yang kutahu...
adalah kamu yang masih menyala-naya dalam khayalku
adalah kamu yang giat menyapa bilik hatiku
adalah kamu yang menohok tepat jalinan nadiku
kamu, dan masih kamu.
-Kepada Nyata, dari Maya
Subscribe to:
Comments (Atom)
