Seekor merpati jantan terbang melintasi langit temaram.
Rambutnya yang putih menyiratkan kelembutan dibingkai langit.
Sayapnya begitu gagah melukiskan corak keemasan dari Raja Siang.
Kepakkannya bergerak dalam ritme-ritme berani seirama dengan kayuhan dari awan yang putih.
Namun, mata sang jantan tak lepas memandang buana.
Matanya menyaratkan kepedihan.
Seekor merpati jantan terbang membelah langit senja.
Petang pun bergilir, lalu emas berubah hitam.
Rambut putih sang jantan terlihat begitu mencolok dari mahleganya.
Dan bisa dilihat, kepakkan sayapnya tetap pada ritme-ritmenya; ritme keindahan.
Namun, mata sang jantan tak lepas memandang buana.
Matanya menyaratkan kepedihan.
Mata sang jantan tampakkan rasa sakit yang sangat.
Jantung hatinya telah hilang hanya menimbulkan rasa jemu di dada.
Cintanya telah berlayar membuatnya hilang akan rasa.
Tak ada yang mampu ia lakukan, kecuali mencarinya. Hartanya berharga.
Merpati jantan mulai melengkingkan nadanya.
Instingnya membawanya kepekarangan sebuah rumah.
Nalurinya menghantarkannya pada kekasih hatinya; jantung hatinya.
Ia begitu bahgia, karena ia dapat mencium aroma gadisnya.
Merpati jantan itu mulai merapat pada bulu-bulu putih yang kini tergantung di sebuah pohon rambutan.
Ia tahu, itu rambut kekasihnya yang rontok.
Merpati jantanpun terus menunggu.
Tapi, kian lama ia bersandar, tak kunjung kekasihnya menepi.
Selama itu pula, cintanya kian meluruh; lepuh.
Ia sudah seperti daun kering ringkih, yang akan pecah dengan tekanan rambut tipis.
Cintanya yang begitu kental membuatnya menelan beribu-ribu duri tatkala tak mampu bersua dengan sang betina.
Namun, masih pula ia menaruh harapan penuh.
Bukankah seekor merpati hanya punya satu hati untuk nyawanya?
Sayangnya, seberapa besar ia menunggu, tampaknya tak akan ada hasilnya.
Dan, seberapa mampunya ia bertahan, kenyataan tak akan luput darinya.
Karena, ia tak pernah tahu akan satu hal.
Ia tak pernah tahu, bahkan saat energinya mulai kandas darinya.
Ia tak pernah tahu, meski raganya sudah mengenyangkan perut belatung gemuk.
Ia masih tak pernah tahu, walau dirinya sudah menjadi pupuk penyerbuk pohon rambutan.
Ia tak tahu bahwa
merpati betinanya telah hilang dikuali pemilik pohon rambutan.
No comments:
Post a Comment