Kemudian, aku yang menjadi kamera khususmu akan mencetak setiap detail gambaranmu lewat neuron otakku. Lalu, semua akan bercampur menjadi memoar yang tersimpan dalam dibalik palung dari si otak. Memoar itu dijaga oleh darah-darah kental yang tak kenal mati. Sehingga, aku tak akan kuatir akan kemungkinan hilangnya si memoar.
Tapi, ketakutanku terus muncul. Ketakutanku adalah bila tiba suatu masa ketika aku tak bisa lagi merekammu, membidikmu, dan memanifestasikan gambaranmu dalam otakku. Aku takut masa itu tiba. Entah karena aku yang lebih dulu hilang produktifitas, ataupun karena kamu, sasaran bidik yang menghilang dari jangkauan lensaku.
Rasa takut itu kian terbumbui dengan kemungkinan-kemungkinan hadirnya kamera-kamera lain. Kamera yang mungkin saja punya kelebihan elok dan kecanggihan tinggi lebih daripada aku. Kamera yang tak membuatmu bosan. Kamera yang tak memerlukan waktu lama untuk memproses segala hal yang tercipta dari siluetmu.
Aku, aku takut. Takut kemungkinan itu muncul. Kemungkinan yang kemudian semakin menjauhkan aku darimu. Kemungkinan yang bahkan mampu membinasakanku dengan sekali saja hardikan. Kemungkinan yang begitu menyesakkan.
Maka, sebelum rasa takut atas kemungkinan itu berpendar nyata, aku lebih memilih untuk terus mengabadikanmu. Menyerap setiap inci dari keindahanmu. Seraya menikmati prasa yang muncul dikala aku menghisap semili demi semili bayangan yang kutangkap.
Kamu tahu, aku sebagai kameramu sudah terlampau pasrah akan segala kemungkinan yang terjadi. Yang aku tahu, aku hanya menjalankan tugasku sebagai kameramu; sebagai kepunyaanmu. Dan, bila hal buruk terjadi dan kau bergerak untuk dapati kamera baru ataupun siluetmu menghilang, aku akan berhenti menyorotimu. Sebab, aku tak mau jadi paparazi yang mengganggu kebebasanmu.
Kamu adalah tuanku: pemilik dari aku, kameramu. Maka, aku selalu pasrah dengan segala yang jadi keputusan tuanku.
Aku memang memuja tuanku; Kamu.
C.id
No comments:
Post a Comment