Menantimu itu menyesakkan.
Merindumu juga sama menyesakkannya.
Setiap malam, aku selalu menantimu dengan rindu yang kian bertambah tunasnya. Tapi, kamu seperti tak menanggapinya.
Kamu bilang kamu juga rindu, tapi kamu tak juga menyatakannya padaku.
Kamu bilang kamu sibuk. Hey, sayang, sepertinya tak susah mengirimi satu pesan. ya, hanya satu.
Kamu, berbeda.
Dulu, kamu sama sibuknya. Bahkan, lebih sibuk.
Tapi kamu sempat saja mengirimiku pesan. Pagi, membangunkan aku atau mengucapkan kamu berangkat kerja. Malam, mengucapkan selamat tidur ataupun kamu pulang.
Sekarang tidak pernah.
Bahkan, aku harus mencecar kamu dulu dengan segala kata rinduku dan kata maafku tatkala emosiku meledak, baru kamu membalas.
Kenapa? Kenapa?
Aku lelah. Aku hanya lelah terus menanti. Lelah dengan pemikiran bahwa hubungan ini hanya aku yang menjadi tumpuan. Aku hancur, hubungan ini juga hancur.
Sayang, kenapa?
Apa kamu sudah tidak mau melanjutkannya lagi?
C.Id
No comments:
Post a Comment