Semua terjadi dengan tiba-tiba. Hal yang membuatku terpuruk, dan kau juga begitu. Kemudian, celah itu seperti mulai ada. Ia masih berupa titik. Tapi, aku sudah begitu takut untuk melihatnya. Titik itu sudah mampu membuatku gelisah, hilang arah, tak tau harus bagaimana. Titik yang sejujurnya mampu menghancurkan semua kesadaranku, meruntuhkan setiap pori-pori yang mengungkungi tubuhku, menghancurkan aku. Ya, adalah aku penyebabnya. Bagaimana titik itu muncul. Bagaimana titik itu, yang kita tidak inginkan, hadir.
Aku tidak mengerti. Aku sendiri tidak mengerti jalan fikiranku. Bagaimana bodohnya aku. Semua terjadi dengan tiba-tiba. Aku yang begitu gegabah, memikirkan saja semua sendiri, tanpa sedikitpun mengindahkan hatimu; prasamu. Aku yang begitu ceroboh, bertindak dengan terburu-buru, sampai membuatmu jatuh, merasakan sakit. Lagi.
Tapi, kamu memaafkan aku. Kamu menyanjungku lagi. Mengatakan lagi kata cinta itu. Mencoba membesarkan aku. Aku, aku semakin kecil. Aku tahu. Bukan aku yang seharusnya dihibur, disentuh, diraih. Tapi kamu. Kamu yang aku lukai. Memikirkannya saja semakin membuatku kalut. Ah, kalau saja aku bisa putar semua, mengulangi segalanya, membuatnya kembali pada kejadian sebelum kesalahan itu terjadi. Sayangnya, aku tidak bisa. Roda itu sudah berputar. Dan waktu tidak mungkin memundurkan dirinya. Dimensi tidak akan pernah sama lagi. Dan, yah, aku sadar. Memutar balikkan waktu bukan hal yang baik. Itu sama saja dengan aku melarikan diri. Menjauh dari masalah. Menghindarinya. Karena itu, aku mencoba menghadapinya. Mencoba mendekati kamu, meraih tanganmu, dan menutup titik yang mulai tercipta itu.
Demon, aku tau. Sesungguhnya aku tau. Bagaimana luka terbentuk dihatimu. Bagaimana hatimu sudah hancur, parah. Layaknya kaca yang ketika pecah, akan masih menimbulkan bayangan retak; tidak akan sembuh seperti sedia kala. Dan aku, sudah menambah luka hatimu lagi, mengoreskannya. Membiarkannya tergenangi darah lagi. Aku, aku tau aku begitu bodoh, tapi aku takut kehilangan kamu. Ya, aku seperti tak tahu diri ya? sudah melakukan kesalahan, membuat titik celah itu muncul, tapi juga masih meminta untuk kamu tetap di sini. Aku egois, aku tau. Tapi, keputusanku untuk terus meraih kamu, mengejar kamu, mepertahankanmu, tidak salah bukan?
Demon, aku sejujurnya tidak tau dengan cara apa aku mampu sembuhkan lukamu. Dengan cara apa aku mampu menutup celah itu kembali, dan membuatmu kembali seutuhnya denganku. Tapi, aku akan lakukan seribu, sejuta, semiliyar, tidak terhingga cara agar titik celah itu hilang dan lukamu menutup.
Demon, kau tau. Hal yang paling aku sukai adalah menulis. Dan dengan tulisan ini, aku berharap kamu mampu mengerti isi hatiku. Seberapa besar aku mencintai kamu, seberapa besar aku ingin menebus kesalahanku. Seberapa besar aku ingin sentuh hatimu.
Demon, Aku mencintaimu. Sangat.
Angel.
No comments:
Post a Comment